FESTIVAL KAMPUNG BINTANG SUKSES SEDOT RIBUAN PENGUNJUNG

FESTIVAL KAMPUNG BINTANG SUKSES SEDOT RIBUAN PENGUNJUNG

Penulis: #asp

Diterbitkan pada: Kamis, 11 Juni 2026 | 03:12 WIB

PANGKALPINANG – Suasana meriah menyelimuti kawasan Kampung Bintang selama tiga hari terakhir. Festival Kampung Bintang 2026 yang dinanti-nantikan masyarakat sukses digelar dengan megah, mengubah wajah kawasan tersebut menjadi pusat perayaan budaya dan kebangkitan ekonomi kreatif di Kota Pangkalpinang. Sejak hari pertama pembukaan, antusiasme warga tidak terbendung. Ribuan pengunjung dari Kota Pangkalpinang dan kabupaten sekitarnya memadati area festival, menciptakan pemandangan yang menunjukkan betapa kuatnya daya tarik wisata berbasis komunitas ini. Kemegahan acara ini semakin terasa istimewa dengan kehadiran tokoh-tokoh penting daerah. Gubernur Kepulauan Bangka Belitung hadir langsung untuk menyaksikan perhelatan budaya ini, didampingi oleh Walikota dan Wakil Walikota Pangkalpinang. Tak ketinggalan, jajaran Forkopimda Provinsi dan Kota turut hadir memberikan dukungan penuh, menandakan bahwa event ini merupakan agenda strategis bagi kemajuan pariwisata daerah. Pesta UMKM: Geliat Ekonomi di Jantung Kota Salah satu magnet utama festival ini adalah kehadiran 100 UMKM pilihan dari Pangkalpinang dan sekitarnya. Mulai dari kuliner khas Bangka yang menggugah selera hingga produk kerajinan tangan kreatif, seluruh stan nampak ramai dikunjungi pembeli. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Festival Kampung Bintang berhasil menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi lokal pasca-pandemi. Sinergi dan Harmoni yang Luar Biasa Kesuksesan besar ini tidak lepas dari koordinasi yang solid antara panitia pelaksana dengan berbagai pihak. Pelaksanaan acara yang berjalan tertib, aman, dan lancar mendapat apresiasi tinggi dari berbagai kalangan. Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang secara khusus menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh elemen yang telah bahu-membahu menyukseskan acara ini. “Kami sangat bangga dengan capaian Festival Kampung Bintang tahun ini. Kesuksesan ini adalah milik kita bersama. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat Kampung Bintang, seluruh panitia, serta aparat keamanan yang telah menjaga kondusivitas selama acara berlangsung,” ungkap perwakilan Dinas Pariwisata dalam sambutan penutupnya. Simbol Persatuan Masyarakat Lebih dari sekadar hiburan, Festival Kampung Bintang juga menjadi simbol persatuan. Dukungan penuh dari tokoh agama dan masyarakat setempat menunjukkan betapa kuatnya rasa toleransi dan gotong royong yang menjadi napas kehidupan di Kampung Bintang. Dengan berakhirnya festival tahun ini, masyarakat berharap kegiatan serupa dapat menjadi agenda rutin tahunan yang lebih besar lagi. Festival Kampung Bintang bukan sekadar acara, melainkan bukti bahwa ketika seluruh pihak bersinergi, sebuah tradisi lokal mampu menjelma menjadi daya tarik wisata berkelas nasional.

Rekomendasi

Berita Terkait

Lihat Selengkapnya
COMING SOON Festival Pasir Padi 7

COMING SOON Festival Pasir Padi 7

#cpz | 11 Jun 2026

19–21 Juni 2026 Bersiaplah untuk kemeriahan budaya, hiburan, dan pesona wisata pantai dalam satu perayaan terbesar di Kota Pangkalpinang. Festival Pasir Padi 7 Pehcun hadir kembali dengan berbagai rangkaian acara menarik yang memadukan tradisi, kreativitas, kuliner, dan hiburan untuk seluruh masyarakat. Nikmati suasana meriah di kawasan Pantai Pasir Padi dengan penampilan seni budaya, pertunjukan hiburan, festival kuliner, aktivitas komunitas, hingga berbagai atraksi menarik lainnya yang akan memeriahkan perayaan Pehcun tahun ini. Catat tanggalnya dan jangan lewatkan pengalaman seru bersama keluarga, sahabat, dan komunitas terbaikmu. 📍 Pantai Pasir Padi, Kota Pangkalpinang 📅 19–21 Juni 2026 COMING SOON — Nantikan informasi lengkap dan rangkaian acara selanjutnya!

Pangkalpinang Siap Gelar Festival Semarak Ekraf 2: Pesta Kreativitas, Kuliner, dan Teknologi di Jantung Kota

Pangkalpinang Siap Gelar Festival Semarak Ekraf 2: Pesta Kreativitas, Kuliner, dan Teknologi di Jantung Kota

#cpz | 11 Jun 2026

PANGKALPINANG – Kota Pangkalpinang akan kembali semarak dengan perhelatan akbar Festival Semarak Ekraf 2 yang akan berlangsung selama tiga hari penuh, mulai dari 15 hingga 17 Mei 2026. Berpusat di Alun-Alun Taman Merdeka (ATM), acara ini dirancang sebagai wadah bagi pelaku ekonomi kreatif sekaligus destinasi wisata keluarga yang lengkap. Wali Kota Pangkalpinang, Prof. H. Saparudin, Ph.D., bersama Wakil Wali Kota Dessy Ayutrisna, SE., M.M., mengundang seluruh masyarakat Bangka Belitung untuk ikut memeriahkan acara yang mengusung semangat “Ekraf Bangkit Pangkalpinang Kreatif” ini. Rangkaian Acara Unggulan Festival ini menawarkan beragam aktivitas yang mencakup berbagai subsektor ekonomi kreatif, di antaranya: Surga Kuliner: Menampilkan Bazar Otak-Otak Pangkalpinang yang dijuluki “Terenak Sedunia”, Bazar Pelaku Ekonomi Kreatif, serta Coffee Street Market bagi para pecinta kopi. Kompetisi Teknologi & Seni: Pada Sabtu, 16 Mei, akan digelar Bangka Robotic Competition (Robot Soccer dan Line Follower) untuk tingkat SD, serta Lomba Mewarnai dan Menggambar bagi kategori TK hingga SD. Hiburan & Komunitas: Penampilan spesial dari bintang tamu Herri Gamma One pada tanggal 16 Mei, serta kemeriahan Cosplay Parade yang berlangsung pada 15-16 Mei. Edukasi & Workshop: Workshop Decoupage oleh Galeri Shesca yang memungkinkan pengunjung berkreasi dengan media pilihan sendiri hanya dengan biaya mulai dari Rp50.000. Pertunjukan Seni Teater Selain di Alun-Alun, festival ini juga menyuguhkan karya seni peran tingkat tinggi melalui Drama Teater “Batin Tikal: Kuasa Simbolik Rambut Keramat” oleh Sanggar Buluh Perindu. Pertunjukan ini dilaksanakan di Auditorium Sofyan Tsauri UNMUH BABEL pada 15-16 Mei pukul 16.00 WIB dengan harga tiket masuk hanya Rp20.000.

Pangkalpinang Berpeluang Jadi “Next Kota Toleran”

Pangkalpinang Berpeluang Jadi “Next Kota Toleran”

#asp | 11 Jun 2026

Pangkalpinang semakin menunjukkan potensinya sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai keberagaman dan harmoni sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini kian mendapat perhatian sebagai salah satu daerah yang memiliki praktik toleransi yang kuat di tengah masyarakat. Sebagai kota yang dihuni oleh beragam etnis dan agama – Melayu, Tionghoa, Jawa, Batak, hingga komunitas lainnya – Pangkalpinang telah lama dikenal dengan kehidupan sosial yang rukun dan saling menghormati. Tradisi gotong royong, perayaan lintas budaya, serta interaksi sosial yang inklusif menjadi wajah keseharian masyarakatnya. Sorotan terhadap potensi Pangkalpinang sebagai “Next Kota Toleran” muncul seiring meningkatnya perhatian publik dan media nasional, terhadap daerah-daerah yang berhasil menjaga kerukunan di tengah keberagaman. Indikator seperti minimnya konflik sosial berbasis SARA, keterbukaan antar komunitas, serta dukungan pemerintah daerah terhadap kegiatan lintas agama menjadi poin penting yang menguatkan posisi Pangkalpinang. Tak hanya itu, berbagai kegiatan budaya seperti festival keagamaan, tradisi lokal, hingga event pariwisata yang melibatkan semua lapisan masyarakat turut memperkuat identitas kota ini sebagai ruang yang ramah bagi semua. Kehadiran rumah ibadah yang berdampingan secara harmonis juga menjadi simbol nyata toleransi yang hidup, bukan sekadar slogan. Pemerintah Kota Pangkalpinang bersama masyarakat terus berkomitmen menjaga nilai-nilai ini melalui pendekatan kolaboratif – melibatkan tokoh agama, komunitas, pelaku budaya, hingga generasi muda. Langkah ini menjadi fondasi penting dalam membangun kota yang tidak hanya maju secara ekonomi dan pariwisata, tetapi juga kuat dalam nilai sosial. Dengan segala potensi tersebut, Pangkalpinang tidak hanya layak menjadi destinasi wisata budaya, tetapi juga inspirasi nasional dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai dan inklusif. Pangkalpinang: Menjaga Rasa, Merawat Keberagaman Di banyak kota, toleransi sering dibicarakan sebagai program. Di Pangkalpinang, toleransi tumbuh sebagai kebiasaan. Kota ini tidak lahir dari satu warna, melainkan dari perjumpaan. Sejak awal, Pangkalpinang telah menjadi ruang bertemunya Melayu dan Tionghoa, disusul oleh Jawa, Batak, Bugis, dan berbagai komunitas lain yang datang membawa identitasnya masing-masing yang kemudian ikut turut menenun identitas kota, tanpa harus saling meniadakan. Dari sanalah Pangkalpinang, belajar satu hal penting: perbedaan tidak untuk diseragamkan, tetapi untuk dirawat. Dari perjumpaan itu lahir satu hal yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan angka: rasa saling menerima. Toleransi yang Hidup dalam Keseharian Dalam kehidupan sehari-hari, keberagaman di Pangkalpinang bukan sekadar identitas, melainkan praktik sosial. Rumah ibadah berdiri berdampingan, perayaan keagamaan saling dihormati, dan interaksi lintas budaya berlangsung tanpa sekat yang berarti. Secara data, kondisi ini diperkuat oleh komposisi masyarakat Bangka Belitung yang plural: Islam sebagai mayoritas, dengan kehadiran umat Buddha, Kristen, Katolik, Konghucu, dan Hindu yang hidup berdampingan secara harmonis. Lebih dari itu, Pangkalpinang dikenal sebagai wilayah dengan minim konflik sosial berbasis SARA, sebuah indikator penting dalam mengukur kualitas toleransi suatu kota. Dalam Perspektif Indeks Kota Toleran Jika merujuk pada indikator SETARA Institute melalui Indeks Kota Toleran (IKT), sebuah kota dinilai dari berbagai aspek – mulai dari regulasi pemerintah, tindakan aparatur, hingga dinamika sosial masyarakat. Dalam konteks ini, Pangkalpinang menunjukkan fondasi yang kuat: Kehidupan lintas etnis yang telah mengakar secara historis; Relasi sosial yang inklusif dan terbuka; Peran aktif tokoh agama dan masyarakat dalam menjaga harmoni; dan Komitmen pemerintah daerah dalam merawat kerukunan Ini bukan sekadar potensi, tetapi realitas yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Menuju “Next Kota Toleran” Indonesia Perhatian media nasional seperti Kompas.com terhadap kota-kota dengan praktik toleransi yang baik menjadi peluang bagi Pangkalpinang untuk tampil sebagai salah satu kandidat “Next Kota Toleran” di Indonesia. Namun, bagi Pangkalpinang, toleransi bukanlah sesuatu yang baru dibangun untuk dilihat. Ia sudah lama ada, dijaga dalam keseharian, dan diwariskan sebagai nilai hidup. Pangkalpinang, Kota yang Menjaga Rasa Dalam perspektif kebudayaan, kota bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi tentang bagaimana manusia di dalamnya saling memperlakukan. Pangkalpinang adalah kota yang menjaga hal tersebut – menjaga rasa hormat, menjaga kebersamaan, dan menjaga kemanusiaan. Di tengah dunia yang semakin mudah terpecah oleh perbedaan, Pangkalpinang justru menunjukkan hal sebaliknya: bahwa keberagaman bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirayakan. Dan bagi wisatawan, Pangkalpinang bukan hanya destinasi – tetapi pengalaman. Di sini, tidak hanya melihat budaya, tetapi merasakannya. Tidak hanya mengunjungi tempat, tetapi menyatu dengan kehidupan masyarakat yang hangat dan terbuka. Inilah Pangkalpinang. Kota yang tidak hanya indah untuk dikunjungi, tetapi juga nyaman untuk dipahami. #KotaToleran #WonderfulPangkalpinang #HarmoniIndonesia