Kawasan Strategis Pariwisata Kota (KSPK)

Kluster Kampung Tuatunu – Budaya Melayu

Kluster Kampung Tuatunu merupakan kawasan yang memiliki karakter kuat sebagai sentra budaya Melayu di Kota Pangkalpinang. Pengembangan pariwisata di wilayah ini diarahkan untuk menonjolkan kekayaan warisan budaya yang masih terjaga dan dipraktikkan oleh masyarakat setempat.

Kawasan ini memiliki potensi yang besar sebagai ruang wisata budaya yang autentik, karena didukung oleh:

1. Tradisi dan Adat Istiadat Melayu

Masyarakat Kampung Tuatunu masih mempertahankan berbagai tradisi seperti upacara adat, kesenian tradisional, pantun, seloka, zikir, hingga ritual masyarakat yang berkaitan dengan siklus kehidupan. Tradisi tersebut dapat dikemas sebagai atraksi wisata budaya yang terjadwal maupun bersifat musiman.

2. Kesenian dan Kerajinan Khas Melayu

Tuatunu dikenal sebagai salah satu tempat berkembangnya seni tradisional Melayu, termasuk musik gambus, tarian melayu, dan seni pertunjukan lainnya. Selain itu, kerajinan lokal seperti anyaman, tenun, ukiran kayu, serta pembuatan kuliner tradisional dapat menjadi daya tarik wisata berbasis edukasi dan pengalaman (experiential tourism).

3. Arsitektur dan Lingkungan Permukiman Tradisional

Kawasan ini memiliki lingkungan permukiman yang masih mencerminkan tata ruang tradisional Melayu, seperti rumah panggung kayu dengan ornamen khas. Elemen-elemen ini memperkuat suasana kultural yang otentik bagi wisatawan yang ingin merasakan kehidupan masyarakat Melayu secara langsung.

 

4. Kuliner dan Gastronomi Melayu

Tuatunu menawarkan beragam makanan tradisional khas Melayu yang dapat dikembangkan menjadi wisata kuliner, seperti lakse, lempah kuning, kue-kue tradisional, serta hidangan yang berkaitan dengan kegiatan adat. Potensi ini mendukung pengembangan paket wisata kuliner berbasis cerita budaya (storytelling).

5. Edukasi Sejarah dan Warisan Leluhur

Kawasan ini dapat menjadi ruang pembelajaran sejarah perkembangan komunitas Melayu di Pangkalpinang melalui pameran budaya, galeri sejarah lokal, rumah budaya, atau jalur interpretasi budaya yang menceritakan perjalanan masyarakat setempat dari masa ke masa.

6. Aktivitas Wisata Berbasis Interaksi Masyarakat

Pengembangan wisata di kluster ini dapat diarahkan pada konsep wisata berbasis komunitas (community-based tourism), di mana wisatawan dapat mengikuti berbagai kegiatan harian warga, seperti belajar membuat kuliner tradisional, mengikuti pelatihan seni, atau terlibat dalam gotong-royong budaya.

#cpz

Back to top button