Pegawai BI dan BAKUDA Jajal Sensasi Angkat Bubu hingga Memancing
Kampung Ekowisata SEJAGAT Pangkal Pinang

PANGKALPINANG – Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang terus berinovasi dalam mempromosikan destinasi wisata baru yang berbasis alam dan kearifan lokal. Menggandeng Pengelola Ekowisata Sejagat (Selindung-Jerambah Gantung), Dinas Pariwisata menggelar program pengenalan wisata bertajuk “Office to Sejagat”, Rabu (21/01/2026).
Dalam kegiatan ini, Badan Keuangan Daerah (BAKUDA) Kota Pangkalpinang dan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bangka Belitung hadir sebagai peserta untuk menjajal langsung potensi wisata yang ditawarkan.
Dipandu langsung oleh tim Pengelola Ekowisata Sejagat, rombongan pegawai BAKUDA dan BI diajak merasakan pengalaman susur sungai (mangrove river cruising) yang autentik. Perjalanan dimulai dengan menyusuri lorong-lorong hutan mangrove yang rimbun, di mana peserta dikenalkan pada beragam flora dan fauna endemik yang menghuni ekosistem sungai tersebut.
Tak hanya sekadar menikmati pemandangan, atraksi wisata dikemas interaktif. Keseruan memuncak saat para peserta diajak merasakan sensasi layaknya nelayan lokal. Mereka berkesempatan memancing di spot-spot potensial hingga menjajal pengalaman unik mengangkat bubu atau pintor, alat tangkap ikan tradisional khas Bangka yang telah dipasang di sepanjang aliran sungai.
Restu, peserta dari BAKUDA Kota Pangkalpinang, mengaku terkesan dengan kombinasi wisata alam dan edukasi budaya ini.
“Program Office to Sejagat ini sangat bagus untuk wisata lokal. Pemandu wisata sangat informatif mengedukasi tentang alam di sini yang masih asri. Pengalamannya mantap dan sangat menyenangkan,” ungkap Restu antusias.
Usai menjajal seluruh rangkaian aktivitas, Bank Indonesia Bangka Belitung memberikan apresiasi sekaligus masukan berharga bagi Dinas Pariwisata dan pengelola. Darma, perwakilan BI Bangka Belitung, menilai atraksi seperti memancing dan susur sungai memiliki nilai jual tinggi, namun memerlukan peningkatan infrastruktur penunjang.
“Terima kasih telah mengajak kami susur sungai ini. Memang masih perlu pengembangan karena ini destinasi baru. Wilayah barat sungainya alami namun jalurnya sempit, sedangkan di timur aksesnya lebih terbuka,” ujar Darma.
Ia menyoroti kenyamanan fasilitas perahu untuk durasi wisata yang cukup panjang. “Saran ke depannya, perahu dibuat sedikit lebih besar agar kaki bisa lebih nyaman, terutama bagi wisatawan yang berpostur tinggi. Selain itu, perlu dibuat spot khusus atau shelter yang bisa memamerkan atraksi wisata seperti pemancingan agar lebih terfokus,” sarannya.
“Mudah-mudahan Sejagat ini bisa jadi salah satu tujuan wisata unggulan, baik bagi masyarakat Bangka Belitung maupun wisatawan luar,” tambah Darma.
Program yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang ini tidak hanya berorientasi pada promosi, tetapi juga edukasi lingkungan. Melalui Office to Sejagat, diharapkan sinergi antara pemerintah, pengelola komunitas, dan instansi strategis seperti BI dapat mempercepat pengembangan destinasi wisata yang berdaya saing dan berkelanjutan. (HENDRI/IAIN SAS BABEL)



